Mengulik Sejarah Langgar Bubrah di Kudus, Jawa Tengah

Kudus, merupakan kota kecil di Jawa Tengah yang memiliki banyak benda dan bangunan Cagar budaya yang cukup menarik untuk ditelusuri sejarahnya. Kehidupan masa lalu yang meninggalkan jejak-jejak berupa benda dan bangunan Cagar Budaya menjadi daya tarik tersendiri bagi saya untuk mengenal kota Kudus lebih dalam. Tepat pada hari libur jum’at lalu saya berinisiatif untuk mengenal sejarah salah satu bangunan cagar budaya yang ada di kota Kudus, Jawa Tengah. Sebuah tempat kuno yang terbuat dari batu bata berukiran unik khas Majapahit yang kondisinya kini tinggal setengah dan berada pada sebidang tanah yang cukup kecil di sekitaran permukiman padat penduduk. Bangunan tersebut adalah Langgar Bubrah. Namanya cukup unik di dengar dan membuat saya penasaran dibalik nama dan sejarah bangunan tersebut.Inilah yang membuat saya ingin mengulik sejarah Langgar Bubrah.

Berawal dari sebuah buku inventarisasi cagar budaya kabupaten Kudus, saya mulai mengetahui sedikit tentang Langgar Bubrah, namun rasa pensaran saya akan sejarah dari bangunan tersebut membuat saya beranjak untuk menuju tempat tersebut. Lokasinya berada di permukiman warga di sisi gang sempit Dukuh Tepasan, Desa demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Cukup mudah untuk dijangkau karena lokasinya berada di kawasan kompleks Menara Kudus. Tepatnya di sisi seberang selatan Jl. Sunan Kudus. Cukup 15 menit jika ditempuh dari rumah.

Terik siang hari tidak menyurutkan niat saya untuk menuju Langgar bubrah. Jalanan macet di kawasan perempatan Menara kudus membuat peluh bercucuran akibat panasnya cuaca siang itu. Teriakan tukang becak yang tersendat kemacetan ditambah suara kendaraan bermotor menghiasi pendengaran saya. Menembus sela-sela kemacetan lalu masuk gang sempit di Dukuh Tepasan, Desa Demangan. Awal masuk gang sempit tersebut hanya terlihat bangunan di sisi kanan-kiri berupa dinding tebal dan tinggi ala banguan Belanda. Hanya sesekali terlihat pintu kayu jati kuno dan gerbang besi yang tertutup rapat menghiasi bangunan-bangunan tersebut. Dan setelah masuk sekitar beberapa ratus meter bertemulah dengan bangunan Langgar Bubrah di kiri jalan. Tak ada lahan parkir untuk mengamankan motor agar tidak mengganggu lalulintas jalan di gang sempit itu. Saya memarkirkan motor di depan salah satu rumah yang berdekatan dengan Langgar Bubrah, lalu masuk ke area Langgar Bubrah dan mengamati secara detail dari bangunan tersebut. Sangat menarik dan membuat saya penasaran dibalik cerita sejarah Langgar Bubrah. Karena tidak ada seorangpun yang bisa saya jadikan narasumber di lokasi, saya mencoba menemui Mas Fahmi Yusron yang menjadi juru kunci Langgar bubrah generasi ke 12. Dengan mudah saya mendapatkan nomor teleponnya yang tertera di sebuah kertas berlaminating yang tertempel di kayu saka di dalam Langgar Bubrah. Biasanya beliau berjaga di lokasi Langgar Bubrah hampir setiap hari. Kebetulan rumah sebelah Langgar bubrah sedang ada hajatan, sehingga beliau memutuskan untuk tidak ke lokasi pada hari itu. Berikut ulasan sejarah Langgar Bubrah yang saya tangkap dari Mas Fahmi Yusron.

Dikisahkan bahwa Langgar Bubrah ini dibangun pada abad XV sekitar tahun 953 H/1533 M oleh Pangeran Pontjowati dari Majapahit. Pangeran Pontjowati pada zaman dahulu diberi sebuah tanah perdikan di area Kota Kudus oleh Majapahit. Kemudian beliau membangun sebuah tempat ibadah yang dahulu dikenal dengan sebutan Bancik-an atau tempat pemujaan pada masa kejayaan Hindu di Kudus. Tempat tersebut adalah Langgar Bubrah. Pada masa kejayaan Hindu, bangunan Langgar Bubrah digunakan sebagai tempat pemujaan atau beribadah bagi umat Hindu. Setelah masuknya Islam ke Kudus yang dibawa oleh Sunan Kudus dan masyarakat sudah memeluk agama Islam, kemudian tempat itu dijadikan sebagai tempat pertemuan para Wali. Pangeran Pontjowati kemudian memeluk agama Islam setelah Sunan Kudus masuk ke kota Kudus dan beliau menjadi salah satu muridnya. Lalu Pangeran Pontjowati memperistri anak dari Sunan Kudus bernama Dewi Prodobinabar yang merupakan anak dari istri sunan Kudus yang bernama Dewi Sari atau Dewi Pecat Tondo Terung.

Bangunan Langgar Bubrah ini memiliki ukuran panjang 6,3 m, lebar 6 m dan tinggi 2,75 m. Terdiri dari batu bata yang memiliki ukiran khas Majapahit yang mana pada zaman dahulu dipahat oleh Kiyai The Ling Sing (Telinsing). Kiyai Telingsing sendiri adalah seorang ulama Cina sekaligus seniman ukir yang menjadi guru atau penasehat dari Sunan Kudus. Selain batu bata yang terukir unik, bangunan ini dulunya hanya terdapat satu saka tunggal dengan dasaran batu Umpak untuk memperkuat pondasi sebagai penopang atap Langgar Bubrah. Jika dilihat, sekarang ini Batu Umpak tersebut berada di Luar Langgar Bubrah dan ukurannyapun cukup besar. Batu Umpak di Langgar Bubrah berdiameter 77 cm, tinggi 50 cm dan keliling 250 cm. Tepat di samping Menhir/batu Lingga yang dahulu digunakan untuk menentukan waktu beribadah. Ada juga batu persegi empat memanjang, dulunya digunakan untuk menggiling dedaunan atau obat-obatan tradisional. Ada versi lain yang mengatakan bahwa ketiga batu tersebut memiliki arti yang berbeda. Batu Lingga diartikan sebagai sebuah keperkasaan laki-laki, sedangkan Batu Umpak yang tengahnya terdapat lubang dan batu persegi panjang diartikan sebagai simbol dari kewanitaan. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, diimana ada Lingga disitu ada Yoni. Ada satu yoni yang berbentuk segi empat dengan lubang ditengahnya namun batu tersebut kini diamankan di museum Ronggowaristo Semarang agar lebih aman. Di dalam sisi barat Langgar Bubrah terdapat mihrab dengan ukiran rumah tawon pada dindingnya. Sampai saat ini bentuk ukiran tersebut masih bisa dilihat dengan jelas. Bangunan ini terdapat dua pintu dengan bentuk menyerupai gapura padureksan seperti yang ada di Menara Kudus dan di beberapa masjid peninggalan Sunan Kudus. Pintu tersebut berada di sebelah timur dan sebelah selatan. Kalau diperhatikan, pintu tersebut berada pada pojok selatan bangunan Langgar Bubrah.

 

Saat berada di Langgar Bubrah, saya mengamati setiap detail bangunan dengan seksama, pandangan saya mengarah pada sisi pojok halaman Langgar Bubrah. Ada batu berbentuk persegi panjang tebal dengan sisi samping terdapat ukiran menjorok ke dalam dan ujung bawah dari batu ini terdapat pahatan patung Dewa Syiwa memegang Trisula dan berkalungkan ular Tricanaka. Dulunya batu ini menurut narasumber yang saya temui, berjumlah dua yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri pintu masuk semasa bangunan ini utuh. Ada juga batu lempeng yang kini terpendam dan rata dengan paving dari permukiman warga. Batu Lempeng ini berukuran panjang 95 cm, lebar 85 cm dan tebal 15 cm. Pada zaman Hindu, Batu Lempeng ini dimanfaatkan sebagai tempat sesaji. Setelah Islam masuk di Kudus, batu itu dimanfaatkan untuk tempat pasujudan. Pandangan saya tetap mengarah pada pojok serambi Langgar Bubrah yakni bentuk batu bata yang masih tertata rapi di bawah batu berukir Dewa Syiwa. Bentuknya menyerupai pagar, namun memiliki ukiran yang disebut Hasta Brata dibagian tengahnya. Dulunya ukiran hasta brata pada batu bata tersebut, tengahnya terdapat porselin yang terbuat dari batu giok. Namun karena usianya yang berabad-abad, batu itu hilang entah kemana. Jika dipahami secara detail di tengah ukiran hasta brata memang terlihat cekungan seperti bekas tempelan porselin. Sebenarnya pahatan tersebut hampir mirip dengan Menara Kudus, namun yang membedakannya adalah porselin yang menempel pada dindingnya. Porselin yang terdapat di Menara Kudus merupakan porselin dari keramik.

Dari mitos yang berkembang di masyarakat Kudus, Langgar bubrah dibangun dengan bantuan makhluk ghaib. Bangunan ini rusak akibat saat pembuatan Langgar tersebut diketahui (Kemanungsan) oleh seorang wanita yang menyapu di sekitaran Langgar Bubrah, sehingga tidak terselesaikan. Kemudian wanita tersebut disabda menjadi patung Dewa Syiwa. Adipati Pontjowatipun marah dan menendang Langgar tersebut hingga rusak. Namun menurut narasumber yang saya temui, Langgar Bubrah rusak bukan  lantaran cerita tersebut. Langgar Bubrah rusak akibat terkikis oleh zaman karena sudah sangat lama tidak digunakan lagi. Saat ini keadaan Langgar Bubrah memang tidak utuh, namun upaya untuk perawatan dari bangunan Cagar Budaya ini dilakukan setiap hari oleh penjaga atau juru kunci yang hampir setiap hari berjaga di lokasi. Ini semua terlihat dengan tidak adanya rumput liar di sekitaran Langgar Bubrah. Bahkan, sampahpun tidak ada yang berserakan. Di dalam Langgar Bubrah pun bersih layaknya bangunan yang dibersihkan setiap hari. Kini Langgar Bubrah diberi atap berupa bangunan Joglo untuk melindungi dan menjaga bangunan agar tidak semakin rusak. Langgar Bubrah saat ini digunakan masyarakat setempat untuk acara selamatan ketika ada hajatan.

Peran pemerintah untuk menjaga agar bangunan Cagar Budaya peninggalan sejarah masa lampau merupakan hal yang sangat penting. Itu semua demi menjaga agar bangunan tersebut tetap dalam keadaan baik dan tidak punah dimakan usia, serta rusak oleh tangan-tangan jahil. Sehingga generasi-generasi penerus nantinya bisa mengenal dan mengetahui sejarah dari kotanya sendiri. Dukungan pemerintah setempat sudah mulai terlihat dengan membuatkan papan nama yang terbuat dari besi atau seng yang diberi nama Langgar Bubrah sebagai tanda bahwa bangunan tersebut adalah bangunan Cagar Budaya yang dilindungi oleh undang-undang. Sehingga masyarakat tahu bahwa bangunan tersebut tidak boleh di rusak, melainkan dijaga dan di lestarikan dengan baik.

Mengulik sejarah tentang bangunan cagar budaya memang sangat menarik untuk ditelusuri, apalagi bangunan tersebut berada di kota sendiri. Kudus tidak melulu soal sejarah kretek, namun banyak sejarah masa lampau yang perlu kita ketahui bersama. Sebenarnya masih ada banyak bangunan Cagar Budaya di Kota Kudus yang bisa ditelusuri sejarahnya. Yuk kita main ke Kudus dan telusuri bareng-bareng sejarah dari bangunan-bangunan tersebut.

Salam lestari….

Advertisements

18 thoughts on “Mengulik Sejarah Langgar Bubrah di Kudus, Jawa Tengah

  1. Menarik ini mas, mengingat letaknya masih berdekatan dengan menara kudus. Semoga terjaga dengan baik kedepannya.
    Btw kalo musim libur memang sekitaran menara kudus semrawut oleh becak, ojek, angkot maupun yg jalan kaki. Ampun deh XD

    Like

  2. Lebih masuk akal kisah bahwa itu merupakan candi yang dibangun Pangeran Poncowati. Mitos yang terlanjur berkembang jadi cerita rakyat bahwa itu bangunan yang bubrah karena ketahuan dibangun oleh jin malah terdengar maksa banget hehehe. Menarik ya, Yas. Sejarah di kotamu itu kaya banget. Sayang dulu pas ke sana udah malam jadi daku nggak lihat dengan seksama. Lain waktu temani ke sana lagi ya. 😉

    Like

    • Bener banget, selalu di identikkan dengan makhluk halus. Namun itu belum tentu semuanya seperti itu. Kadang kita terlalu percaya dengan mitos yang berkembang tanpa mau mencari tahu sisi asli dari cerita tersebut. Bangunan Langgar Bubrah memang hampir mirip Menara Kudus karena pemahat dinding batanya juga orang yang sama kak. Namun Langgar Bubrah dibangun jauh sebelum ada Menara Kudus.

      Like

Terima kasih sudah mampir di blog yang sederhana ini. Silahkan tinggalkan jejakmu di kolom komentar. Senang bisa berbagi pengalaman dengan kamu melalui blog ini. Salam Blogger :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s