Menelisik Sejarah Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah

Menjelang sore suasana di Jalan Pemuda begitu ramai dengan suara kendaraan yang berlalu-lalang ditambah dengan bunyi klakson yang bersahutan. Para pejalan kaki seperti tak terusik dengan bisingnya kendaraan. Serta teriknya matahari yang menyengat kulit. Aku bersama rombongan berjalan menuju ke Lawang Sewu, mencoba mengetahui lebih dekat sisi lain sejarah dari kota Semarang. Dengan membawa kamera yang selalu setia di setiap petualanganku, aku pun berusaha menikmati perjalanan sepanjang Jalan Pemuda. Mataku seperti tak mau lepas mengamati gedung-gedung tinggi di kawasan Jalan Pemuda ini.

Kurang dari 15 menit kaki ini melangkah, nampak bangunan tua yang ber-arsitektur art deco menjulang gagah dan megah di hadapanku. Segera kulangkahkan kaki memasuki gerbang bergaris-garis warna hitam dengan pos penjaga di belakangnya. Seorang penjaga yang berpakaian biru dongker membuka lebar pintu gerbang menyambut kedatangan pengunjung yang menyerbu Lawang Sewu. Hatiku dipenuhi berbagai pertanyaan tentang sejarah Lawang Sewu dan tentang keadaan di dalam sana. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di bangunan tua dengan gedung yang masih kokoh dan terlihat gagah. Bangunan yang terletak di sisi bundaran Tugu Muda ini begitu menghipnotisku. Ditambah Langit biru yang begitu indah membuat rasa keingintahuanku tentang bangunan ini membuncah pecah. Kamera yang semula hanya di genggaman tangan tak ku sia-siakan begitu saja. Beberapa kali ku abadikan bangunan yang bersejarah itu. Kemudian aku dan beberapa pengunjung berhenti sejenak di samping Lawang Sewu menunggu pemandu wisata bercerita tentang sejarah bangunan tua ini. Terdengar pemandu wisata mulai memperkenalkan diri melalui pengeras suara yang digenggamnya. Perjalananpun dimulai, semua menyimak saat sang pemandu wisata mencoba menerangkan secara detail bangunan bercat putih kombinasi orange dan abu sedang itu. Beliau memulai tour dari samping dan menunjukkan sebuah bangunan berbentuk segi enam yang ternyata sebuah sumur tua dengan kedalaman 1000 meter dan tertutupi oleh rumah kecil.

“Mengapa di sebut Lawang Sewu? Apakah pintunya berjumlah seribu?” Seorang perempuan muda tiba-tiba bertanya penuh. Kata “Lawang Sewu” hanyalah sebuah kiasan yang menggambarkan banyaknya pintu yang ada di dalam bangunan ini.” Jawab Sang Pemandu. Aku hanya mengamati dalam diam sambil mencoba mencerna setiap kata yang terucap darinya. Berikutnya beliau menjelaskan bahwa Lawang Sewu merupakan gedung yang digunakan oleh Belanda sebagai kantor Pusat Kereta Api (Trem) atau NIS (Nederlandsch Indische Spporweg Maschaapij. Bangunan ini merupakan karya dari seorang arsitek Belanda yang bernama Prof.Jacob F. Klinkhamer dan BJ. Queendag yang dibangun sejak tahun 1903 dan diresmikan pada tahun 1907. Begitu mahir pemandu menjelaskan detail dari bangunan ini serasa membawaku ke masa lalu.

Perjalanan berlanjut menuju halaman tengah dari bangunan ini yang merupakan tanah lapang yang sangat luas dengan beberapa pohon yang nampak hijau sehingga pelataran tengah dari bangunan Lawang Sewu ini terasa teduh. Di sisi timur berdiri sebuah Museum yang berisikan property peninggalan Belanda yang disimpan dalam etalase. Kami harus melangkah mengikuti pemandu menuju ke sebuah ruangan yang dipenuhi barang-barang peninggalan Belanda yang masih terawat hingga kini. Karena terlalu asyik berkutat dengan kamera, akupun tertinggal oleh pemandu yang sedari tadi bercerita tentang bangunan ini. Mbak Azizah seorang perempuan yang baru ku kenal disebuah workshop melanjutkan cerita dari sang pemandu tersebut. Beberapa kali dia mencoba menghentakkan kaki ke lantai yang menimbulkan suara gaduh di bawahnya. Karena merasa penasaran, aku pun bertanya padanya, mengapa berkali-kali kakinya dihentakkan seolah mengecek sesuatu. Mbak Azizah pun menerangkan jika ini menandakan bahwa di bawah sana ada ruang bawah tanah yang digunakan oleh pemerintah Jepang untuk membantai para tahanan. Dulunya tempat ini memang sebuah kantor Kereta Api, akan tetapi setelah diambil alih oleh Jepang kemudian digunakan sebagai penjara. Sedangkan ruang bawah tanah sebagai tempat pembantaian para tahanan. Begitu sadis dan kejamnya Jepang menggunakan tempat ini. Rakyat yang tak berdosa hanya bisa pasrah dengan kekejaman Jepang yang tak manusiawi. Dinding tebal pada bangunan ini didesain agar ruangan di dalam gedung tidak pengap dan panas walaupun terik matahari di luar tengah berpijar dengan garangnya.

Perjalanan masih berlanjut dalam ruangan yang berisi barang-barang peninggalan belanda ini. Kami menuju ruangan yang berbentuk memanjang dan disekat tembok dengan pintu yang berada di tengah sehingga dari ujung hingga ujung ruangan ini nampak pintu yang berbaris rapi. Desain ruangan yang begitu apik ini ternyata mempunyai tujuan tertentu, yaitu agar para pekerja yang berada di kantor ini bisa dilihat dari kejauhan sehingga berlaku jujur tanpa ada niat untuk Korupsi Kolusi dan Nepotisme.

Langkah kaki ini masih terus berlanjut, kali ini kami menelusuri lorong-lorong bangunan Lawang Sewu yang sedikit terasa mistis saat melewatinya. Kamipun bertemu dengan beberapa pengunjung tengah bergerombol di sebuah ruangan yang terdapat jalan menuju ruang bawah tanah. Pemandu tidak menyarankan kami untuk masuk ke ruangan tersebut karena banyak air yang menggenangi ruang bawah tanah itu dan mitosnya banyak dihuni oleh makhluk halus.

Masih berada di lorong bangunan tua ini, kami dibawa pemandu wisata ke sebuah ruangan di lantai atas bekas gudang penyimpanan barang logistic. Sunyi dan sepi, hanya ada ruang kosong yang sekarang dijadikan sebagai lapangan badminton. Terlihat dari garis putih yang membentuk sebuah area badminton. Tak ketinggalan juga menara pengintai yang masih kokoh dengan tangga yang terbuat dari kayu jati. Ternyata Kayu-kayu yang berada di ruangan ini masih asli sejak zaman Belanda hingga saat ini. Betul-betul menakjubkan. Keluar dari ruangan ini, pemandu mengarahkan telunjuk tangannya kesalah satu bangunan di sampingnya yang merupakan sebuah toilet lama yang terletak tepat di belakang bangunan tua ini. Beda dengan bangunan zaman sekarang yang rata-rata toiletnya berada dalam satu rumah. Pemandu pun menjelaskan maksud dari desain tersebut tentunya bertujuan agar ruangan kantor tetap bersih.

Sayangnya ada beberapa ruangan yang tidak bisa dikunjungi karena masih dalam tahap renovasi dan belum selesai pengerjaannya. Terasa tak begitu sempurna karena tak dapat menjelajahi semuanya, tapi para pengunjung tampak begitu puas begitupun dengan diriku. Ternyata banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah bangunan tua ini. Saksi bisu perjalanan sejarah per-Kereta Apian Indonesia dan kekejaman Jepang yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah bangunan yang bersejarah. Bangunan-bangunan tua yang menjadi cagar budaya mempunyai cerita masa lampau yang sangat berarti untuk bangsa ini.

Senja mulai nampak berwarna orange menandakan hari mulai gelap dan akupun memutuskan untuk menyudahi petulanganku menelisik sejarah masa lampau di Lawang Sewu.

2 Banner Mar - Apr 2015

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah 2015 Periode 2 bertema β€œCagar Budaya Jateng” yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Advertisements

29 thoughts on “Menelisik Sejarah Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah

  1. Wahh sekarang udah ciamik banget ya mas. Saya kesana tahun 2010 nyaris belum tersentuh renovasi. Masih mistis dan tidak pakai tiket resmi. Pun pemandunya hanya warga sekitar. Saya masuk ke ruang bawah tanah jam 10 malam. πŸ˜€

    Like

  2. Pernah ke lawang sewu. Sayang waktu itu mau ke bagian bawah tanahnya gak bisa. Yang agak ngeri itu sih waktu naik ke bagian atapnya. Luas sekali. Malah dijadikan lapangan badminton. Tapi waktu naik ke atas sepi euy sendrian lagi. Padahal hari itu siang-siang. Orang ramai di bawah.

    Like

Terima kasih sudah mampir di blog yang sederhana ini. Silahkan tinggalkan jejakmu di kolom komentar. Senang bisa berbagi pengalaman dengan kamu melalui blog ini. Salam Blogger :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s