Pendakian Puncak Merbabu, Boyolali, Jawa Tengah

Puncak Merbabu di Belakangku

Opo Kek Blog – Ini adalah kisah ke dua saya tentang manjat gunung. Pendakian pertama saya di Puncak Botak Ungaran, Jawa tengah membuat saya ketagihan untuk menikmati keindahan alam yang begitu memanjakan mata saya.

Eksotika alam yang menyajikan keindahannya membuat saya tertarik untuk kembali lagi menapaki gunung-gunung di Jawa Tengah. Puncak Merbabu tujuan pendakian saya yang ke dua ini. Konon katanya Puncak Merbabu mempunyai banyak mitos-mitos yang membuat bulu kuduk saya merinding ketika membaca cerita tentang para pendaki. Aaaah itu hanya sekedar mitos saja (fikir saya). Puncak Merbabu berada pada ketinggian 3.145 Mdpl dan merupakan gunung tertinggi ke sembilan di pulau Jawa.

Hujan turun mulai siang hari sekitar pukul 14.00 WIB dan saya harap-harap cemas, pesimis untuk tetap melakukan Pendakian Puncak Merbabu yang berlokasi di Kota Boyolali, Jawa Tengah. Aji dan Farida yang awalnya semangat-pun ikut pesimis karena cuaca yang tidak mendukung.

Kemungkinan hanya di Kudus saja yang cuacanya tidak mendukung seperti ini (fikir saya). Kefikiran untuk cari info tentang cuaca di Merbabu, saya pun menghubungi salah satu contact person basecamp Merbabu dan berharap mendapatkan balasan bahwa di sana cuacanya aman. Alhasil jawabannya adalah cuaca di Merbabu sama dengan cuaca di kota saya. Makin peisimis ketika kawan-kawan lain yang tahu bahwa saya akan melakukan pendakian pada hari itu, mereka menyarankan untuk tidak melakukan Pendakian Puncak Merbabu pada hari itu juga.

Sedikit semangat setelah dapat kabar dari basecamp Merbabu bahwa pada sore hari banyak orang dari luar kota yang akan melakukan pendakian malam. Terdengar bunyi HP yang berdering seakan memanggil saya untuk segera membukanya. Itu sms dari Aji, kawan saya yang akan melakukan pendakian bersama. Dia menanyakan cuaca di Merbabu dan saya jawab sesuai jawaban dari Merbabu.

Kami hanya terdiri dari 4 orang (Saya, Aji, Farida dan Aini) yang akan melakukan pendakian bersama. Sebenarnya ada sekitar 20 orang yang akan ikut bareng dengan kami tetapi 13 orang memilih lewat jalur Chuntel (Kopeng) sedangkan saya lewat jalur Selo (Boyolali) karena tracknya yang lebih aman. Tiga orang lagi batal ikut karena terbentur dengan jadwal pekerjaan.

Inilah kami

Rencana berangkat dari Kudus pukul 16.00 WIB molor sekitar 30 menit. Tak apalah yang penting nanti agak ngebut sedikit hihihihi (maap pak polisi). Sampai di Basecamp Merbabu pukul 21.00, istirahat sebentar, daftar di pos dan makan malam. Satu jam berlalu kami segera melangkahkan kaki menuju pintu masuk Pendakian Puncak Merbabu dan pendakian kita mulai.

Baru berjalan sekitar 15 menit, Farida yang merupakan pemula nafasnya terengah-engah dan meminta untuk break sebentar. Lima menit break, kami lanjutkan perjalanan. Suasana sepi, gelap, hitam dan sunyi karena kami hanya empat orang mengingatkan saya pada mitos-mitos tentang merbabu (Menyeramkan). Baru sebentar berjalan, Farida kembali tidak bisa mengatur nafasnya. Merasa kasihan dan tidak tega akhirnya kami kembali break sebentar.

Track Merbabu

Aji, Aini dan saya terus menyemangati serta memberi pengarahan cara mengatur nafas agar tidak terengah-engah. Sedikit demi sedikit dia semakin semangat dan ingin segera sampai puncak walaupun Puncak Merbabu masih jauh di atas sana. Awal-awal memang kami sering break sampai akhirnya bertemu dengan pendaki lain yang berjumlah lebih banyak dari kami. Mereka berasal dari Yogyakarta, Boyolali dan Solo. Kami saling menyemangati satu sama lain agar tetap semangat. Farida yang awalnya pesimis bisa sampai atas akhirnya ikut semangat karena bertemu dengan pendaki lain yang membuat perjalanan kami semakin menyenangkan dan ramai.

Kami menyalip beberapa kelompok pendaki yang memulai pendakian sekitar pukul 21.00 WIB. Semangat mas, semangat mbak, duluan mas, duluan mbak kata-kata yang sering terucap ketika kami bertemu dengan pendaki lain. Pos 1 dan 2 terlewati berharap bisa sampai po-pos selanjutnya. Sampai di pos 1 dan 2 kami sempat berhenti sejenak dan mengobrol dengan pendaki lain.

Saat bertemu pendaki dari Yogyakarta

Sampai di pos 3 terlihat banyak para pendaki yang mendirikan tenda dan nge-camp di lokasi ini. Kami di pos 3 hanya numpang masak mie rebus dan memakannya. Cuaca semakin dingin dan gerimis romantis mulai turun (cieeee gerimis romantis ehem ehem..). Semakin lama break maka badan terasa semakin dingin. Selesai makan, perjalanan kami lanjutkan hingga di Pos 4.

Pos 3 (Foto diambil saat perjalanan turun)

Track menuju Pos 3

Di pos 4 juga sudah banyak pendaki yang mendirikan tenda dan nge-camp di sini. Keadaan langit gelap dan masih gerimis serta dingin yang menusuk tulang membuat kami berhenti sejenak di pos 4 untuk berunding memilih nge-camp di pos 4 atau pos 5. Alhasil keputusan kami lanjut ke pos 5 yang merupakan tempat terakhir untuk nge-camp sebelum naik ke puncak walaupun keadaan gerimis, bisa dibilang kami nekad waktu itu.

Pos 4 (foto di ambil dari tempat saya nge-camp)

Sampai di atas sabana satu gerimis menghilang dan berganti hujan lebat. cepat-cepat kami memakai jas hujan agar badan kami tidak basah. Sampai di atas bukit sekitar pukul 04.00 WIB Kabut semakin tebal dan jalan semakin tak terlihat serta ber-angin kencang yang kami sebut badai. Untuk menhindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami mendirikan tenda darurat di atas bukit. Beruntung kami temukan lahan sekitar 2 m persegi untuk tempat kami mendirikan tenda.

Tenda kami berada di ujung bukit ini sendirian

Saat kami akan memasukkan barang-barang ke dalam tenda, di dalam tenda terdapat genangan air. Air kami alirkan ke pojok tenda dan tenda kami beri alas SB. Badan Aji tak kuat karena kedinginan, badannya gemetaran tak berdaya. Saya bongkar-bongkar tas mencari sesuatu yang masih kering dan bisa digunakan untuk selimut. Barang-barang bawaan kami basah semua, beruntung kaos ganti aji masih sedikit kering jadi bisa dipakai buat ganti. Ada handuk kecil dan satu jaket kering punya Farida, selain itu basah semua. Sementara handuk kering dan jaket Farida di pakai Aji, badai di luar mengombang-ambingkan tenda kami yang sendirian di atas bukit (badai yang menakutkan). Kami hanya bisa berdo’a dan duduk melipat kaki, merapatkan dengkul dengan dagu, memeluk kaki erat-erat dan beralas SB yang basah terkena serapan air dari bawah tenda. Dingin menggigil menusuk tulang dengan keadaan pakaian yang basah, pasrah dengan keadaan dan mulut komat-kamit membaca do’a berharap badai dan hujan segera reda. Kami nyalakan beberapa lilin sebagai penghangat badan dan terpaksa memasak air jahe di dalam tenda untuk menghangatkan tubuh. Tak banyak bicara dan gerak karena semakin banyak bicara dan gerak rasanya udara semakin dingin menusuk tulang.

Kami berempat gemetaran dan kedinginan di dalam tenda, berharap ada seseorang ataupun tim SAR yang menolong kami karena memang baru pertama kalinya kami mengalami peristiwa seperti ini saat mendaki gunung. Sesekali pasak tenda lepas dan harus di tancapkan kembali ke tanah agar tenda tetap beridiri kokoh sebagai tempat berteduh. Empat jam lebih, hujan, badai dan kabut tebal membuat kami cemas, kedinginan, pasrah, gemetaran menggigil di dalam tenda mulai pukul 04.00 WIB – 08.30 WIB.

Badai sedikit reda walaupun masih gerimis, saya ajak Aji, Aini dan Farida untuk segera turun mumpung badai sedikit reda. Saat packing barang-barang bawaan, Aji membuka tenda dan melihat keadaan luar tenda. Dia memanggil saya untuk segera melihat keadaan luar tenda. Saya menghiraukan begitu saja ajakan Aji karena dalam fikiran saya, kami harus packing segera dan cepat-cepat turun. Aji masih memaksa saya untuk melihat keluar. Pandangan saya arahkan ke luar tenda dan terlihat Puncak Merbabu yang cantik di depan mata.

Puncak merbabu selesai badai

Subhanallah, kata yang terucap pertama kali saat keluar tenda melihat cantiknya Puncak Merbabu di depan mata. Air mata tak bisa dibendung keluar dengan sendirinya melihat keindahan Merbabu dan bersyukur karena badai, hujan dan kabut menghilang seketika seperti seorang penyandang tuna netra yang kembali bisa melihat dunia. Betapa senangnya kami berempat waktu itu saat badai telah menghilang. Semua keluar tenda dan berteriak lepas. Dalam hati berkata “terimakasih ya Allah, engkau masih memberi kesempatan kepada kami untuk melihat keindahan alam yang begitu indah ini”.

Puncak Merbabu

Barang kami biarkan di dalam tenda dan berserakan begitu saja. Rasa bahagia dan tidak menyangka kami bisa sampai di sini hingga terheran-heran dengan keindahan alam Merbabu. Kamera yang mengumpat di dalam tas berselimutkan pakaian, kami keluarkan untuk mengabadikan momen-momen indah di Merbabu. Canda, tawa, rasa syukur dan bahagia menyelimuti hati kami. Kuteriakkan kata-kata syukurku kepada alam sekitar dan kepada Allah yang telah menciptakan alam ini. Beberapa kali kabut dan angin kencang kembali, beruntung tidak seperti kabut dan badai sebelumnya.

Aini dan Aji

Aini, Me and Farida

Tak ada sunset di pendakian saya kali ini karena badai dan kabut menutupinya. Maksud hati ingin melanjutkan perjalanan ke puncak tapi apa daya kami tak bisa melanjutkan ke puncak karena mengingat dalam rombongan ini ada dua cewek yang sudah kelelahan. Daripada terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, kami urungkan niat untuk melanjutkan perjalanan ke puncak.

Terlihat Gunung Merapi yang berwarna abu tua gelap dan awan yang berjalan beriringan di dorong oleh angin seakan-akan sedang bermain-main. Benar-benar seperti merasakan “negeri di atas awan” yang ada dalam dongeng-dongeng waktu kecil.

Gununung Merapi

Menatap Merapi di Pos 4 saat perjalanan turun

Puas berteriak dan berfoto, perut mulai bergejolak minta untuk segera di isi. Berhubung dari bawah kami sudah bawa nasi walaupun sudah berubah dingin, kami hanya memasak mie goreng sebagai lauk dan jahe hangat untuk penghangat tubuh. Makan selesai, kami segera packing dan turun untuk pulang. Tak lupa juga kami berdo’a sebelum akhirnya turun ke basecamp.

Empat jam setengah sudah kami berjalan dari atas dan akhirnya sampai di basecamp. Permasalahan tak hanya di badai, kabut dan hujan yang membuat kami menggigil tak berdaya. Sampai di basecamp sekitar 14.30 WIB dan kami pulang sekitar pukul 16.30 WIB. Keadaan jalan yang licin curam dibarengi dengan gerimis membuat Aini dan Aji terjatuh dari motor. Sontak saya kaget terdengar suara motor yang terjatuh. Ya Allah cobaan apalagi ini, apakah kami memang tidak diperkenankan ke Puncak Merbabu? (ucap saya dalam hati). Warga setempat yang awalnya berdiam diri di rumah mereka masing-masing. Keluar dan menolong dua kawan saya yang kecelakaan. Saya berusaha menolong aji, sementara Aini di tolong warga dan Farida. Aini dan Aji di bawa warga ke rumahnya untuk diobati. Sementara barang-barang kami pinggirkan di teras warga. Tak sempat memikirkan barang dan motor tanpa penjaga. Yang penting dua teman saya selamat.

Menurut warga setempat, jalan yang kami lalui memang rawan kecelakaan karena kondisi jalan yang sangat curam dan licin. Kami memang salah jalan karena awal berangkat, kami tidak melalui jalan ini. Baru saja dua kawan saya diobati, terdengar suara warga masuk ke dalam rumah dan memberitahukan bahwa kembali terjadi kecelakaan di tempat yang sama. Jalan seketika di tutup dan di hadang pot bunga oleh warga untuk menandakan jalan itu tidak boleh dilewati.

Saya salut dengan warga Selo yang begitu peduli dengan para pendaki. Mereka baik, santun dan ramah memperlakukan kami seperti saudaranya sendiri. Satu jam kami istirahat di rumah warga, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan walaupun warga setempat menyarankan kami untuk menginap di rumahnya. Saya minta tolong bapak-bapak agar bisa mengantarkan kami sampai jalan besar karena Aji dan Aini masih trauma dengan kejadian itu. Dengan semangat dan senyum, bapak-bapak itu mengantarkan kami hingga jalan besar menuju pusat kota Boyolali.

Ya Allah terima kasih engkau masih memberikan kami kesempatan untuk menikmati dunia ini. Pendakian saya bersama kawan-kawan kali ini memang memberikan cerita panjang dan penuh perjuangan. Alhamdulillah kami semua sampai di rumah dengan selamat. πŸ™‚

Thank’s For :

  1. Aji yang sudah mengajak saya ke merbabu dan mengambil gambar.
  2. Warga Selo yang sudah membantu kami saat kecelakaan.
  3. Ibu basecamp yang dengan senang hati menerima kedatangan kami.

Catatan :

  1. Hati-hati jika melewati jalan arah Basecamp karena keadaan jalan yang membuat hati dag,dig,dug.
  2. Jangan lupa lapor ke basecamp Pak Parman dan mendaftarkan diri untuk melakukan pendakian.
  3. Biaya masuk pendakian merbabu Rp. 8.500 /orang.
  4. Untuk pendaki yang berjumlah banyak bisa menyewa mobil carteran yang disediakan oleh basecamp dengan cara menghubungi salah satu basecamp.
  5. Saat hujan dan badai, carilah tempat mendirikan tenda yang dekat dengan pohon atau tebing agar tenda anda tidak terbawa angin.
  6. Hati-hati saat turun, setelah Batu Tulis ada tikungan macan yang mempunyai beberapa cabang dan salah satunya menuju jurang.
  7. Jaga sikap jangan melakukan hal-hal yang tidak baik selama pendakian.
Advertisements

20 thoughts on “Pendakian Puncak Merbabu, Boyolali, Jawa Tengah

  1. rumah ortu di boyolali, rumah istri saya di ambarawa
    ibu saya ngajar di selo, dekat sama basecamp new selo
    jadi gunung merbabu sama merapi “makanan” sehari2
    saya suka lihat puncaknya pagi2 dari teras rumah
    sayang gak boleh naik gunung sm ibu
    februari saya mau coba gunung yg “gak tinggi2 amat”
    namanya gunung tujuh di jambi

    Like

Terima kasih sudah mampir di blog yang sederhana ini. Silahkan tinggalkan jejakmu di kolom komentar. Senang bisa berbagi pengalaman dengan kamu melalui blog ini. Salam Blogger :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s